Koes Plus | a true story of Indonesian Legendary band of brothers

Koes Plus | a true story of Indonesian Legendary band of brothers

Jakarta, CNN Indonesia — Perjalanan karier band legendaris Koes Plus sebentar lagi akan diceritakan lewat film. Film itu akan digarap oleh rumah produksi Falcon Pictures yang sebelumnya menggarap Si Doel The Movie.

Produser Falcon Pictures Frederica mengatakan naskah film sudah selesai ditulis. Namun mereka belum mendapatkan aktor untuk memerankan Tonny Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Yon Koeswoyo dan Murry.

“Kami saat ini sedang mencari pemain yang pas untuk memerankan tokoh personel Koes Plus,” kata Frederica dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (12/10).

Lihat juga:Jokowi Pidato Game of Thrones, Netizen Curhat ‘Musim Nikah’

Kursi sutradara akan diisi oleh Rako Prijanto yang sebelumnya menggarap film Teman Tapi Menikah. Ia mengaku sangat tertarik menggarap film ini saat pertama kali mendapat tawaran.

“Lagu-lagu Koes Plus sangat dekat dengan kita dan bisa kebayang nanti bagaimana adegannya, dengan segala bentuk emosinya, dilatarbelakangi oleh lagu-lagu Koes Plus yang sudah akrab dengan telinga masyarakat Indonesia,” kata Rako.

Koes Plus merupakan salah satu band paling populer di Indonesia pada era 1960 sampai 1980-an. Terbentuk pada 1960, band itu awalnya bernama Koes Bersaudara.

Nama mereka berubah menjadi Koes Plus pada 1968 saat bertambah personel yang tidak memiliki nama Koeswoyo.

Koes Bersaudara sempat dipenjara tanpa proses pengadilan di Penjara Glodok, Jakarta Pusat, pada 29 Juni 1965.

Ganjaran itu mereka dapat karena tetap memainkan musik rock n’ roll yang kental nuansa Barat, padahal Presiden Soekarno sudah melarang.

Koes Bersaudara dibebaskan pada 29 September 1965. Pun saat dibebaskan tidak ada alasan yang jelas dari pemerintah.

Lihat juga:HBO Respons Pidato ‘Game of Thrones’ Jokowi dengan Meme

Pada Maret 2016 lalu, CNNIndonesia.com sempat bertemu Yok untuk bertanya mengenai kasus penjara tersebut. Menurutnya hukuman yang diterima band yang ia naungi hanya drama pemberitaan.

“Waktu itu, Bung Karno mengatakan, ‘Jangan bawakan musik ngak ngik ngok, Elvis-Elvisan.’ Padahal kami merasa tidak memiliki maksud tertentu selain menghibur penggemar,” ujar Yok.

Menurut Yok, musik Barat yang dibawakan hanya secuil, karena Koes Bersaudara tetap membawakan lagu-lagu bernuansa Indonesia, seperti Senja, Telaga Sunyi dan Dara Manisku.

“Saya merasa Koes Bersaudara sangat disudutkan atas kasus itu,” kata Yok.

Yok dan saudaranya mengaku tidak pernah ingin menodai kedaulatan Indonesia. Koes Bersaudara malah ingin mengharumkan nama Indonesia melalui musik. Karena bagi Yok, bela negara bukan hanya lewat wajib militer, tetapi bisa lewat kesenian.

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20181012202303-220-338097/perjalanan-band-koes-plus-bakal-jadi-film