"Pa, aku mau sekolah." "Iya. Tapi untuk apa kamu sekolah?" Satu pertanyaan aneh dari seorang ayah mengubah cara seorang anak memandang dunia. Ayahnya bukan orang tua pada umumnya. Ia mengizinkan anaknya bolos demi naik gunung, tidak peduli pada nilai rapor, mengajarkan tentang jodoh lewat percakapan yang nyeleneh, dan percaya bahwa kebahagiaan lebih penting daripada pencapaian. Namun di balik segala keanehannya, tersimpan kisah yang jauh lebih dalam: tentang kehilangan, pengampunan, keluarga yang pernah retak, dan cinta yang datang dalam bentuk yang tidak selalu mudah dikenali. Dari rumah yang penuh buku dan gunung-gunung yang didaki bersama, tersusunlah pelajaran-pelajaran hidup tentang bagaimana cinta terkadang hadir dengan cara yang paling aneh. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, kamu akan memandang ayahmu dengan cara yang berbeda.