Di usia 30, Juleha cuma punya satu mimpi sederhana: menikah dan membahagiakan enyak–babehnya. Tapi ketika ia merasa sudah menemukan “yang tepat”, hidup justru berubah jadi rentetan kejutan tak enak. Cinta manis bersama Asep mendadak pahit. Sahabat yang menuntunnya berhijrah mendadak meninggal, dan membuatnya tersadar bahwa jodoh bisa saja soal pasangan atau kematian. Di tengah jatuh-bangun itu, Juleha memilih memperbaiki diri. Ia menyelesaikan kuliah, membangun masa depan perlahan, dan mencoba menerima bahwa tidak semua keinginan berjalan sesuai harapan. Namun takdir seolah senang menguji: pintu yang sudah hampir terbuka kembali tertutup, dan harapan yang ia genggam makin terasa jauh. Hingga suatu hari, Juleha menemukan nasihat dari seseorang di masa lalunya—sosok yang tak pernah masuk dalam daftar kemungkinan. Pertemuan itu mengubah pandangannya tentang takdir. Dan saat ia hampir menyerah, semesta justru menunjukkan bahwa jodoh kadang datang dari arah yang paling tidak terpikirkan.